Pengertian Hadis, Sunnah, Khabar dan Atsar

Nurjunida Sarah Koto
Mahasiswi IAIN Psp
nurjunidasarahkoto@gmail.com
A. Pendahuluan
Islam sebagai agama yang sempurna ajarannya diperuntukan bagi seluruh manusia di muka bumi. Sebagai agama, Islam mempunyai sumber ajaran. Sumber ajaran Islam adalah asal atau tempat ajaran Islam itu diambil sebagai sumber mengindikasikan makna bahwa ajaran Islam berasal dari suatu yang dapat digali dan dipergunakan untuk kepentingan operasionalisasi ajaran Islam dan pengembangannya sesuai dengan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh umat Islam. Setiap prilaku dan tindakan umat Islam baik secara individu maupun kelompok harus dilakukan berdasarkan sumber tersebut. Oleh karena itu, sumber ajaran Islam berfungsi pula sebagai dasar pokok ajaran Islam. Sebagai dasar, maka sumber itu menjadi landasan semua prilaku dan tindakan umat Islam sekaligus sebagai referensi tempat orientasi dan konsulitasi dan tolak ukurnya.
Sebagian besar umat Islam sepakat menetapkan sumber ajaran Islam itu adalah al- Qur’an, al-Sunnah (Hadits) dan Ijtihad. Sunnah (Hadits) yang mempunyai pengertian menurut ulama Hadits sebagai segala sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad Saw, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, budi pekerti, perjalanan hidup, baik sebelum menjadi Rasul maupun sesudahnya, inilah yang menjadikan kedudukan Sunnah (Hadits) menjadi dasar dalam ajaran Islam yang kedua setelah al-Qur’an. Kedudukan Sunnah (Hadits) dalam sumber ajaran Islam sangat strategis, bagi kehidupan dan penghidupan umat. Yang mana Sunnah (Hadits) berfungsi sebagai penjabar (bayan) dari ayat-ayat al-Qur’an. Baik itu, sebagai bayan al-ta’kid, bayan al-tafsir dan bayan al-tashri’. Allah mengutus para Nabi dan Rasul-Nya kepada ummat manusia untuk memberi petunjuk kepada jalan yang lurus dan benara agar mereka bahagia dunia dan akhirat. Rasululloh lahir ke dunia ini dengan membawa risalah Islam, petunjuk yang benar. Hukum Syara adalah khitab Syari’ (seruan Allah sebagai pembuat hukum) baik yang sumbernya pasti (qath’i tsubut) seperti Al-Quran dan Hadis, maupun ketetapan yang sumbernya masih dugaan kuat (zanni tsubut) seperti hadits yang bukan tergolong mutawatir.

B. Pembahasan

1.   Pengertian Hadis
Dalam tradisi Sunni, yang dimaksud dengan hadis ialah segala perkataan, perbuatan, taqrir, dan hal-ihwal yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw. Hadis dalam pengertian ini oleh ulama hadis disinonimkan dengan istilah alsunnah. Dengan demikian, menurut umumnya jumhur ulama hadis, bentuk-bentuk hadis atau al-sunnah ialah segala berita berkenaan dengan sabda, perbuatan,taqrir, dan hal-ihwal Nabi Muhammad Saw.
Dari definisi hadits yang ditetapkan Sunni di atas, memberikan batasan tentang segala sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad Saw, sekaligus ketetapan bahwa wahyu telah terhenti setelah wafatnya Nabi Muhammad. Dengan demikian apapun yang bersumber dari Nabi dapat dijadikan dasar hukum dan sekaligus sumber ajaran Islam. Sebaliknya apapun yang tidak bersumber langsung dari Nabi bukan termasuk hadits, tidak wajib diikuti dan tidak dapat dijadikan dasar hukum dan sumber ajaran Islam. Maka sumber utama yang dapat mengeluarkan hadis menurut Sunni hanya Nabi Muhammad Saw.[1]
Sejarah Perkembangan hadis pada periode pertama dimulai pada masa Ashr al-Wahy wa al- Takwin, masa ini merupakan masa wahyu turun dari Nabi Muhammad SAW, pada masa ini pusat studi hadits masih berpusat kepada Nabi Muhammad SAW, karena masa ini merupakan masa dimana Nabi SAW masih ada. Begitu juga pada periode kedua, periode ini tergolong pada masa sahabat, pengertian tentang sahabat atau batasan tentang sahabat menjadi perdebatan para ulama. Ada yang memberikan batasan sempit, yakni sahabat yang secara khusus menjadi periwayat hadits.
Ada juga yang mempunyai kecenderungan mengartikan sahabat sebagai seorang yang bergaul dengan Nabi Muhammad walaupun tidak meriwayatkan hadits.[2]
Hadits menurut istilah ahli hadits adalah: Apa yang disandarkan kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, baik berupa ucapan, perbuatan, penetapan, sifat, atau sirah beliau, baik sebelum kenabian atau sesudahnya.
Sedangkan menurut ahli ushul fikih, hadits adalah perkataan, perbuatan, dan penetapan yang disandarkan kepada Rasulullah Saw setelah kenabian. Adapun sebelum kenabian tidak dianggap sebagai hadits, karena yang dimaksud dengan hadits adalah mengerjakan apa yang menjadi konsekuensinya. Dan ini tidak dapat dilakukan kecuali dengan apa yang terjadi setelah kenabian.[3]

2.   Pengertian Sunnah
Sunnah secara bahasa bermakna metode (at-thoriqoh) jalan (sabiil). Salah satu dalil yang menunjukkan makna ini adalah hadits dari Abu ‘Amr Jarir ibn ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mencontohkan dalam Islam sunnah yang baik, maka bagi dia pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya. Barangsiapa yang mencontohkan sunnah yang jelek, maka atasnya dosa dan dosa orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim).
Sunnah menurut istilah ulama ahli hadits yaitu apa yang diriwayatkan dari Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, taqriir (ketetapan) beliau, sifat jasmani, atau sifat akhlak, perjalanan setelah bi’tsah (diangkat sebagai Nabi), dan terkadang masuk juga sebagian sebelum bi`tsah. Sehingga arti as-Sunnah di sini semakna dengan al-Hadits.[4]
As-Sunnah menurut istilah syari’at ialah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk qaul (ucapan), fi’il (perbuatan), taqrir (penetapan), sifat tubuh serta akhlak yang dimaksudkan dengannya sebagai tasyri’ (pensyari’atan) bagi ummat Islam. Adapun hadits menurut bahasa ialah sesuatu yang baru. 
Secara istilah sama dengan As-Sunnah menurut Jumhur Ulama.

Ada ulama yang menerangkan makna asal secara bahasa bahwa: Sunnah itu untuk perbuatan dan taqrir, adapun hadits untuk ucapan. Akan tetapi ulama sudah banyak melupakan makna asal bahasa dan memakai istilah yang sudah lazim digunakan, yaitu bahwa As-Sunnah muradif (sinonim) dengan hadits.
Contoh-contoh dari definisi Sunnah yang dibawakan oleh ahli hadits antara lain:

a.  Hadits qauli (Sunnah dalam bentuk ucapan) ialah segala ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada hubungannya dengan tasyri’, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
يَعْنِيْهِ لاَ مَا تَرْكُهُ الْمَرْءِ إِسْلاَمِ حُسْنِ مِنْ
“Di antara kebaikan islam seseorang ialah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya. ”
b.  Hadits fi’li (Sunnah yang berupa perbuatan) ialah segala perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diberitakan oleh para Shahabatnya tentang wudhu’, shalat, haji, dan selainnya.
c.  Hadits taqriri ialah segala perbuatan Shahabat yang diketahui oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau membiarkannya dan tidak mengingkarinya.[5]

3.   Pengertian Khabar
Khabar menurut bahasa serupa dengan makna hadist, yakni segala berita yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain. Sedang pengertian khabar menurut istilah, antara satu ulama dengan ulama lainnya berbeda pendapat.
Ulama lain megatakan bahwa khabar adalah sesuatu yang datang selain dari Nabi SAW di sebut hadist. Ada juga yang mengatakan bahwa hadist lebih umum dan lebih luas dari pada khabar, sehingga tiap hadist dapat dikatakan khabar  tetapi tidak setiap khabar dikatakan hadist.[6]
Menurut bahasa berarti an-Naba’ (berita-berita), sedang jama’nya adalah Akhbar. Khabar adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi dan para sahabat, jadi setiap hadits termasuk khabar tetapi tidak setiap khabar adalah hadits.
Menurut istilah ada 3 pendapat, yaitu:
1.   Merupakan sinonim bagi hadits, yakni keduanya berarti satu.
2.   Berbeda dengan hadits, di mana hadits adalah segala sesuatu yang datang dan Nabi SAW. sedang khabar adalah suatu yang datang dari selain Nabi SAW.
3.   Lebih umum dari hadits, yakni bahwa hadits itu hanya yang datang dari Nabi saja, sedang khabar itu segala yang datang baik dari Nabi SAW. maupun yang lainnya.[7]
Kabar yang berarti “berita" atau “warta“ selain kepada Nabi SAW, bisa juga dinisbatkan kepada sahabat, dan tabiin dengan dmeikian khabar mempunyai makhna yang lebih umum dari pada hadits karena didalamnya termasuk semua riwayat yang bukan dari nabi saw.[8]
4.   Pengertian atsar
Atsar menurut dari pendekatan bahasa artinya sama dengan khabar, hadits dan sunnah. Sementara itu, atsar menurut istilah adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari sahabat dan boleh juga disandarkan terhadap perkataan Nabi Muhammad SAW.
 secara terminologi, ada sebanyak 2 pendapat mengenai definisi dari atsar ini sendiri.
Menurut istilah Jumhur ahli hadits mengungkap jika atsar sama dengan khabar dan hadits, yakni sesuatu yang disandarkan pada Nabi Muhammad SAW, sahabat dan tabi'in.
Dari pengertian istilah tersebut, adanya perbedaan pendapat diantara kalangan ulama. Sedangkan menurut ulama Khurasan, atsar untuk yang mauquf (disandarkan pada sahabat) dan khabar untuk yang marfu (disandarkan pada Nabi Muhammad SAW).
Jadi, atsar menjadi istilah untuk segala yang disandarkan pada para sahabat atau tabi'in, namun kadang juga dipergunakan untuk hadits yang disandarkan pada Nabi Muhammad SAW apabila berkaitan misal dikatakan atsar dari Nabi Muhammad SAW.[9]
Atsar merupakan salah satu istilah yang ada dalam ilmu hadis. Atsar secara bahasa berarti baqiyyat al-syay’, artinya sisa dari sesuatu. Sedangkan secara istillah ada dua pendapat :
1.   Atsar adalah sinonim dari hadis, yaitu segala sesuatu yang berasal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2.   Atsar berbeda dengan hadis, adapun pengertiannya adalah :

أفعال أو أقوال من التابعين و الصحابة إلى أضيف ما
“Perkataan ataupun perbuatan yang disandarkan kepada Sahabat ataupun Tabiin.”[10]

C. Kesimpulan

1.   Hadits adalah perkataan, perbuatan, dan penetapan yang disandarkan kepada Rasulullah Saw setelah kenabian. Adapun sebelum kenabian tidak dianggap sebagai hadits, karena yang dimaksud dengan hadits adalah mengerjakan apa yang menjadi konsekuensinya. Dan ini tidak dapat dilakukan kecuali dengan apa yang terjadi setelah kenabian.
2.   Sunnah menurut istilah ulama ahli hadits yaitu apa yang diriwayatkan dari Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, taqriir (ketetapan) beliau, sifat jasmani, atau sifat akhlak, perjalanan setelah bi’tsah (diangkat sebagai Nabi), dan terkadang masuk juga sebagian sebelum bi`tsah. Sehingga arti as-Sunnah di sini semakna dengan al-Hadits
3.   khabar adalah sesuatu yang datang selain dari Nabi SAW di sebut hadist. Ada juga yang mengatakan bahwa hadist lebih umum dan lebih luas dari pada khabar, sehingga tiap hadist dapat dikatakan khabar  tetapi tidak setiap khabar dikatakan hadist.
4.   Atsar: jumhur ulama berpendapat bahwa atsar sama artinya dengan khabar dan hadits. Ada juga ulama yang berpendapat bahwa atsar sama dengan khabar, yaitu sesuatu yang disandarkan pada Nabi SAW, sahabat dan tabiin.

DAFTAR PUSTAKA

      Ahmad, Jumal. “Hadis dan Ilmu Hadis dalam Perspektif Sunnah dan Syiah.” 15 November 2017. https://doi.org/10.13140/RG.2.2.17689.52323.
      “al-Ustadz Info: PENGERTIAN SUNNAH, KHABAR DAN ATSAR.” al-Ustadz Info (blog). Diakses 18 September 2019.
      Maulana, Luthfi. “Periodesasi Perkembangan Studi Hadits (Dari Tradisi Lisan/Tulisan Hingga Berbasis Digital).” ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin 17, no. 1
      “Pengantar Studi Ilmu Hadits - Syaikh Manna Al-Qaththan - Google Buku.” Diakses 18 September 2019.
      “Pengertian As-Sunnah Menurut Syari’at – Almanhaj – Media Salafiyyah Ahlus Sunnah.” Diakses 18 September 2019.
      “Pengertian Atsar - Istimroor.” Diakses 18 September 2019. http://istimroor-belajar.blogspot.com/2012/12/pengertian-atsar.html.
      “Pengertian Atsar Menurut Bahasa dan Istilah, Ragam Pengertian.” Diakses 18 September 2019.
      “PENGERTIAN HADITS, SUNNAH, KHABAR DAN ASTAR | butterfly.” Diakses 18 September 2019.
      “Pengertian Hadits, SUNNAH, KHABAR, DAN ATSAR - CYB3R6H0STTM.” Diakses 18 September 2019.
      “Pengertian Sunnah, Hisbah. net.” Diakses 18 September 2019. https://www.hisbah.net/pengertian-sunnah/.





[1]Jumal Ahmad, Hadis dan Ilmu Hadis dalam Perspektif Sunnah dan Syiah, (15 November 2017), https://doi.org/10.13140/RG.2.2.17689.52323.
[2]Luthfi Maulana, “Periodesasi Perkembangan Studi Hadits (Dari Tradisi Lisan/Tulisan Hingga Berbasis Digital),” ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin 17, no. 1
[3]Pengantar Studi Ilmu Hadits - Syaikh Manna Al-Qaththan - Google Buku,” diakses 18 September 2019,
[4]“Pengertian Sunnah. Hisbah. net,” diakses 18 September 2019, https://www.hisbah.net/pengertian-sunnah/.
[5] “Pengertian As-Sunnah Menurut Syari’at – Almanhaj – Media Salafiyyah Ahlus Sunnah,” diakses 18 September 2019,
[6]“Pengertian Hadits, SUNNAH, KHABAR, DAN ATSAR - CYB3R6H0STTM,” diakses 18 September 2019,
[7]“PENGERTIAN HADITS, SUNNAH, KHABAR DAN ASTAR | butterfly,” diakses 18 September 2019,
[8]al-Ustadz Info: PENGERTIAN SUNNAH, KHABAR DAN ATSAR,” al-Ustadz Info (blog), diakses 18 September 2019,
[9]Pengertian Atsar Menurut Bahasa dan Istilah, Ragam Pengertian, diakses 18 September 2019,
[10]Pengertian Atsar - Istimroor, diakses 18 September 2019, http://istimroor-belajar.blogspot.com/2012/12/ pengertian-atsar. html.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Perkembangan Pemikiran Ulumul Hadis Pada Periode Klasik, Pertengahan dan Modern.

Pembagian Hadis Dari Segi Kuantitas Sanad, Mutawatir, Masyhur Dan Ahad

Cerpen Motivasi