Pengertian Hadis, Sunnah, Khabar dan Atsar
Islam sebagai agama yang sempurna
ajarannya diperuntukan bagi seluruh manusia di muka bumi. Sebagai agama, Islam
mempunyai sumber ajaran. Sumber ajaran Islam adalah asal atau tempat ajaran
Islam itu diambil sebagai sumber mengindikasikan makna bahwa ajaran Islam
berasal dari suatu yang dapat digali dan dipergunakan untuk kepentingan
operasionalisasi ajaran Islam dan pengembangannya sesuai dengan kebutuhan dan
tantangan yang dihadapi oleh umat Islam. Setiap prilaku dan tindakan umat Islam
baik secara individu maupun kelompok harus dilakukan berdasarkan sumber
tersebut. Oleh karena itu, sumber ajaran Islam berfungsi pula sebagai dasar
pokok ajaran Islam. Sebagai dasar, maka sumber itu menjadi landasan semua
prilaku dan tindakan umat Islam sekaligus sebagai referensi tempat orientasi
dan konsulitasi dan tolak ukurnya.
Sebagian besar umat Islam sepakat
menetapkan sumber ajaran Islam itu adalah al- Qur’an, al-Sunnah (Hadits) dan
Ijtihad. Sunnah (Hadits) yang mempunyai pengertian menurut ulama Hadits sebagai
segala sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad Saw, baik berupa perkataan,
perbuatan, taqrir, budi pekerti, perjalanan hidup, baik sebelum menjadi Rasul maupun
sesudahnya, inilah yang menjadikan kedudukan Sunnah (Hadits) menjadi dasar
dalam ajaran Islam yang kedua setelah al-Qur’an. Kedudukan Sunnah (Hadits)
dalam sumber ajaran Islam sangat strategis, bagi kehidupan dan penghidupan
umat. Yang mana Sunnah (Hadits) berfungsi sebagai penjabar (bayan) dari
ayat-ayat al-Qur’an. Baik itu, sebagai bayan al-ta’kid, bayan al-tafsir dan
bayan al-tashri’. Allah mengutus para Nabi dan Rasul-Nya kepada ummat
manusia untuk memberi petunjuk kepada jalan yang lurus dan benara agar mereka
bahagia dunia dan akhirat. Rasululloh lahir ke dunia ini dengan membawa risalah
Islam, petunjuk yang benar. Hukum Syara‟ adalah khitab Syari’ (seruan Allah sebagai pembuat
hukum) baik yang sumbernya pasti (qath’i tsubut) seperti Al-Qur‟an dan Hadis, maupun ketetapan yang
sumbernya masih dugaan kuat (zanni tsubut) seperti hadits yang bukan
tergolong mutawatir.
B. Pembahasan
1.
Pengertian Hadis
Dalam tradisi Sunni, yang dimaksud
dengan hadis ialah segala perkataan, perbuatan, taqrir, dan hal-ihwal
yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw. Hadis dalam pengertian ini oleh
ulama hadis disinonimkan dengan istilah alsunnah. Dengan demikian,
menurut umumnya jumhur ulama hadis, bentuk-bentuk hadis atau al-sunnah ialah
segala berita berkenaan dengan sabda, perbuatan,taqrir, dan hal-ihwal
Nabi Muhammad Saw.
Dari definisi hadits yang ditetapkan
Sunni di atas, memberikan batasan tentang segala sesuatu yang berasal dari Nabi
Muhammad Saw, sekaligus ketetapan bahwa wahyu telah terhenti setelah wafatnya
Nabi Muhammad. Dengan demikian apapun yang bersumber dari Nabi dapat dijadikan
dasar hukum dan sekaligus sumber ajaran Islam. Sebaliknya apapun yang tidak
bersumber langsung dari Nabi bukan termasuk hadits, tidak wajib diikuti dan
tidak dapat dijadikan dasar hukum dan sumber ajaran Islam. Maka sumber utama
yang dapat mengeluarkan hadis menurut Sunni hanya Nabi Muhammad Saw.[1]
Sejarah Perkembangan hadis pada
periode pertama dimulai pada masa Ashr
al-Wahy wa al- Takwin,
masa ini merupakan masa wahyu
turun dari Nabi Muhammad SAW, pada masa ini pusat studi hadits masih berpusat
kepada Nabi Muhammad SAW, karena masa ini merupakan masa dimana Nabi SAW masih
ada. Begitu juga pada periode kedua, periode ini tergolong pada masa sahabat,
pengertian tentang sahabat atau batasan tentang sahabat menjadi perdebatan para
ulama. Ada yang memberikan batasan sempit, yakni sahabat yang secara khusus
menjadi periwayat hadits.
Ada juga yang mempunyai
kecenderungan mengartikan sahabat sebagai seorang yang bergaul dengan Nabi
Muhammad walaupun tidak meriwayatkan hadits.[2]
Hadits
menurut istilah ahli hadits adalah: Apa yang disandarkan kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, baik
berupa ucapan, perbuatan, penetapan, sifat, atau sirah beliau, baik sebelum
kenabian atau sesudahnya.
Sedangkan
menurut ahli ushul fikih, hadits adalah perkataan, perbuatan, dan penetapan
yang disandarkan kepada Rasulullah Saw setelah kenabian. Adapun sebelum
kenabian tidak dianggap sebagai hadits, karena yang dimaksud dengan hadits
adalah mengerjakan apa yang menjadi konsekuensinya. Dan ini tidak dapat
dilakukan kecuali dengan apa yang terjadi setelah kenabian.[3]
2. Pengertian
Sunnah
Sunnah secara bahasa bermakna metode (at-thoriqoh) jalan (sabiil).
Salah satu dalil yang menunjukkan makna ini adalah hadits dari Abu ‘Amr Jarir ibn ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang mencontohkan
dalam Islam sunnah yang baik, maka bagi dia pahalanya dan pahala orang yang
mengamalkannya. Barangsiapa yang mencontohkan sunnah yang jelek, maka atasnya
dosa dan dosa orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim).
Sunnah menurut istilah ulama ahli hadits yaitu apa yang diriwayatkan dari Nabi SAW baik
berupa perkataan, perbuatan, taqriir (ketetapan)
beliau, sifat jasmani, atau sifat akhlak, perjalanan setelah bi’tsah (diangkat sebagai
Nabi), dan terkadang masuk juga sebagian sebelum bi`tsah. Sehingga arti as-Sunnah
di sini semakna dengan al-Hadits.[4]
As-Sunnah menurut istilah syari’at ialah segala sesuatu yang
bersumber dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk qaul (ucapan),
fi’il (perbuatan), taqrir (penetapan), sifat tubuh serta akhlak yang dimaksudkan
dengannya sebagai tasyri’ (pensyari’atan) bagi ummat Islam. Adapun
hadits menurut bahasa ialah sesuatu yang baru.
Secara istilah sama dengan As-Sunnah menurut Jumhur Ulama.
Ada
ulama yang menerangkan makna asal secara bahasa bahwa: Sunnah itu untuk
perbuatan dan taqrir, adapun hadits untuk ucapan. Akan tetapi ulama sudah
banyak melupakan makna asal bahasa dan memakai istilah yang sudah lazim
digunakan, yaitu bahwa As-Sunnah muradif (sinonim) dengan hadits.
Contoh-contoh dari definisi Sunnah yang dibawakan
oleh ahli hadits antara lain:
a. Hadits qauli (Sunnah dalam bentuk ucapan) ialah segala ucapan
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada hubungannya dengan tasyri’,
sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
يَعْنِيْهِ لاَ مَا تَرْكُهُ الْمَرْءِ إِسْلاَمِ حُسْنِ مِنْ
“Di antara kebaikan islam seseorang ialah meninggalkan
apa-apa yang tidak bermanfaat baginya. ”
b. Hadits fi’li (Sunnah yang berupa perbuatan) ialah segala
perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diberitakan oleh para
Shahabatnya tentang wudhu’, shalat, haji, dan selainnya.
c. Hadits taqriri ialah segala perbuatan Shahabat yang diketahui
oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau membiarkannya dan tidak
mengingkarinya.[5]
3. Pengertian Khabar
Khabar menurut bahasa serupa
dengan makna hadist, yakni segala berita yang disampaikan oleh
seseorang kepada orang lain. Sedang pengertian khabar menurut
istilah, antara satu ulama dengan ulama lainnya berbeda pendapat.
Ulama lain megatakan bahwa
khabar adalah sesuatu yang datang selain dari Nabi SAW di sebut hadist. Ada
juga yang mengatakan bahwa hadist lebih umum dan lebih luas dari pada
khabar, sehingga tiap hadist dapat dikatakan khabar tetapi
tidak setiap khabar dikatakan hadist.[6]
Menurut bahasa
berarti an-Naba’ (berita-berita), sedang jama’nya adalah Akhbar. Khabar adalah segala sesuatu
yang disandarkan kepada nabi dan para sahabat, jadi setiap hadits termasuk
khabar tetapi tidak setiap khabar adalah hadits.
Menurut
istilah ada 3 pendapat, yaitu:
1.
Merupakan
sinonim bagi hadits, yakni keduanya berarti satu.
2.
Berbeda
dengan hadits, di mana hadits adalah segala sesuatu yang datang dan Nabi SAW.
sedang khabar adalah suatu yang datang dari selain Nabi SAW.
3.
Lebih
umum dari hadits, yakni bahwa hadits itu hanya yang datang dari Nabi saja,
sedang khabar itu segala yang datang baik dari Nabi SAW. maupun yang lainnya.[7]
Kabar yang berarti “berita" atau “warta“ selain kepada Nabi SAW, bisa juga
dinisbatkan kepada sahabat, dan tabiin dengan dmeikian khabar mempunyai makhna
yang lebih umum dari pada hadits karena didalamnya termasuk semua riwayat yang
bukan dari nabi saw.[8]
4.
Pengertian atsar
Atsar
menurut dari pendekatan bahasa artinya sama dengan khabar, hadits dan sunnah.
Sementara itu, atsar menurut istilah adalah segala sesuatu yang diriwayatkan
dari sahabat dan boleh juga disandarkan terhadap perkataan Nabi Muhammad SAW.
secara
terminologi, ada sebanyak 2 pendapat mengenai definisi dari atsar ini sendiri.
Menurut
istilah Jumhur ahli hadits mengungkap jika atsar sama dengan khabar dan hadits,
yakni sesuatu yang disandarkan pada Nabi Muhammad SAW, sahabat dan tabi'in.
Dari
pengertian istilah tersebut, adanya perbedaan pendapat diantara kalangan ulama. Sedangkan menurut ulama Khurasan,
atsar untuk yang mauquf (disandarkan pada sahabat) dan khabar untuk yang marfu
(disandarkan pada Nabi Muhammad SAW).
Jadi,
atsar menjadi istilah untuk segala yang disandarkan pada para sahabat atau
tabi'in, namun kadang juga dipergunakan untuk hadits yang disandarkan pada Nabi
Muhammad SAW apabila berkaitan misal dikatakan atsar dari Nabi Muhammad SAW.[9]
Atsar merupakan salah satu istilah yang ada dalam ilmu hadis. Atsar secara bahasa berarti baqiyyat al-syay’,
artinya sisa dari sesuatu. Sedangkan secara istillah ada dua pendapat :
1.
Atsar adalah sinonim dari hadis,
yaitu segala sesuatu yang berasal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2.
Atsar berbeda dengan hadis,
adapun pengertiannya adalah :
أفعال أو أقوال من التابعين و
الصحابة إلى
أضيف ما
“Perkataan
ataupun perbuatan yang disandarkan kepada Sahabat ataupun Tabiin.”[10]
C. Kesimpulan
1.
Hadits adalah perkataan, perbuatan,
dan penetapan yang disandarkan kepada Rasulullah Saw setelah kenabian. Adapun
sebelum kenabian tidak dianggap sebagai hadits, karena yang dimaksud dengan
hadits adalah mengerjakan apa yang menjadi konsekuensinya. Dan ini tidak dapat
dilakukan kecuali dengan apa yang terjadi setelah kenabian.
2.
Sunnah menurut istilah ulama ahli hadits yaitu apa yang diriwayatkan dari Nabi SAW baik
berupa perkataan, perbuatan, taqriir (ketetapan)
beliau, sifat jasmani, atau sifat akhlak, perjalanan setelah bi’tsah (diangkat sebagai
Nabi), dan terkadang masuk juga sebagian sebelum bi`tsah. Sehingga arti as-Sunnah
di sini semakna dengan al-Hadits
3.
khabar
adalah sesuatu yang datang selain dari Nabi SAW di sebut hadist. Ada juga yang
mengatakan bahwa hadist lebih umum dan lebih luas dari pada
khabar, sehingga tiap hadist dapat dikatakan khabar tetapi
tidak setiap khabar dikatakan hadist.
4.
Atsar:
jumhur ulama berpendapat bahwa atsar sama artinya dengan khabar dan hadits. Ada
juga ulama yang berpendapat bahwa atsar sama dengan khabar, yaitu sesuatu yang
disandarkan pada Nabi SAW, sahabat dan tabiin.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad,
Jumal. “Hadis dan Ilmu Hadis dalam Perspektif Sunnah dan Syiah.” 15 November
2017. https://doi.org/10.13140/RG.2.2.17689.52323.
“al-Ustadz Info: PENGERTIAN SUNNAH, KHABAR
DAN ATSAR.” al-Ustadz Info (blog). Diakses 18 September 2019.
Maulana, Luthfi. “Periodesasi Perkembangan
Studi Hadits (Dari Tradisi Lisan/Tulisan Hingga Berbasis Digital).” ESENSIA:
Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin 17, no. 1
“Pengantar Studi Ilmu Hadits - Syaikh
Manna Al-Qaththan - Google Buku.” Diakses 18 September 2019.
“Pengertian As-Sunnah Menurut Syari’at –
Almanhaj – Media Salafiyyah Ahlus Sunnah.” Diakses 18 September 2019.
“Pengertian Atsar - Istimroor.” Diakses 18
September 2019.
http://istimroor-belajar.blogspot.com/2012/12/pengertian-atsar.html.
“Pengertian Atsar Menurut Bahasa dan
Istilah, Ragam Pengertian.” Diakses 18 September 2019.
“PENGERTIAN HADITS, SUNNAH, KHABAR DAN
ASTAR | butterfly.” Diakses 18 September 2019.
“Pengertian Hadits, SUNNAH, KHABAR, DAN
ATSAR - CYB3R6H0STTM.” Diakses 18 September 2019.
“Pengertian Sunnah, Hisbah. net.” Diakses
18 September 2019. https://www.hisbah.net/pengertian-sunnah/.
[1]Jumal Ahmad, Hadis dan Ilmu Hadis dalam Perspektif Sunnah dan Syiah, (15
November 2017), https://doi.org/10.13140/RG.2.2.17689.52323.
[2]Luthfi Maulana, “Periodesasi
Perkembangan Studi Hadits (Dari Tradisi Lisan/Tulisan Hingga Berbasis
Digital),” ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin 17, no. 1
[3]Pengantar Studi Ilmu Hadits - Syaikh
Manna Al-Qaththan - Google Buku,” diakses 18 September 2019,
[4]“Pengertian Sunnah. Hisbah. net,”
diakses 18 September 2019, https://www.hisbah.net/pengertian-sunnah/.
[5] “Pengertian As-Sunnah Menurut Syari’at
– Almanhaj – Media Salafiyyah Ahlus Sunnah,” diakses 18 September 2019,
[8]al-Ustadz
Info: PENGERTIAN SUNNAH, KHABAR DAN ATSAR,” al-Ustadz Info (blog),
diakses 18 September 2019,
[10]Pengertian Atsar - Istimroor,
diakses 18 September 2019, http://istimroor-belajar.blogspot.com/2012/12/ pengertian-atsar.
html.

Komentar
Posting Komentar